RS Griya Husada Madiun _ Pernah merasa tubuh baik-baik saja, tetapi tiba-tiba mengalami patah tulang hanya karena terjatuh ringan? Kondisi tersebut perlu diwaspadai, terutama jika terjadi pada orang lanjut usia.

Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah osteoporosis, yaitu kondisi ketika kepadatan dan kualitas tulang menurun sehingga tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah.

Masalahnya, osteoporosis sering berkembang tanpa keluhan yang jelas. Seseorang bisa merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa, padahal kekuatan tulangnya telah berkurang.

Karena itulah, menjaga kesehatan tulang tidak sebaiknya menunggu hingga muncul keluhan.


Apa Itu Osteoporosis?


Osteoporosis atau yang dikenal sebagai pengeroposan tulang merupakan kondisi ketika kepadatan dan kekuatan tulang menurun. Akibatnya, tulang menjadi lebih rentan mengalami patah, bahkan setelah benturan atau jatuh yang relatif ringan.

Tulang sebenarnya merupakan jaringan hidup yang terus mengalami proses pembentukan dan penghancuran secara alami. Osteoporosis terjadi ketika keseimbangan proses tersebut terganggu sehingga kehilangan tulang lebih besar daripada pembentukannya.

Kondisi ini lebih sering ditemukan pada perempuan setelah menopause dan orang lanjut usia. Namun, osteoporosis juga dapat terjadi pada laki-laki maupun orang yang lebih muda, terutama jika memiliki faktor risiko tertentu.


Mengapa Osteoporosis Sering Tidak Disadari?


Berbeda dengan beberapa penyakit yang menimbulkan gejala sejak awal, osteoporosis umumnya tidak menyebabkan rasa sakit ketika kepadatan tulang mulai menurun.

Akibatnya, seseorang mungkin baru mengetahui dirinya mengalami osteoporosis setelah terjadi patah tulang.

Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan:


  • Tinggi badan berkurang secara bertahap, terutama jika dibandingkan dengan tinggi badan sebelumnya.
  • Postur tubuh semakin membungkuk, yang dapat berkaitan dengan perubahan pada tulang belakang.
  • Nyeri punggung yang muncul mendadak atau menetap, terutama jika berkaitan dengan kemungkinan patah tulang belakang.
  • Patah tulang akibat benturan ringan, misalnya jatuh dari posisi berdiri.


Tanda-tanda tersebut tidak selalu berarti osteoporosis. Namun, jika mengalaminya, terutama pada usia lanjut atau orang dengan faktor risiko, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan yang sesuai.


Siapa yang Lebih Berisiko Mengalami Osteoporosis?


Osteoporosis tidak hanya dipengaruhi oleh usia. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya meliputi:


1. Bertambahnya usia

Seiring bertambahnya usia, keseimbangan pembentukan dan kehilangan tulang dapat berubah sehingga kepadatan tulang lebih mudah menurun.


2. Perempuan setelah menopause

Penurunan hormon estrogen setelah menopause dapat mempercepat kehilangan massa tulang.


3. Riwayat keluarga

Seseorang yang memiliki orang tua dengan riwayat patah tulang panggul atau osteoporosis dapat mempunyai risiko yang lebih tinggi.


4. Kurang asupan kalsium dan vitamin D

Kalsium dibutuhkan untuk membentuk dan mempertahankan tulang, sedangkan vitamin D membantu penyerapan kalsium.


5. Kurang aktivitas fisik

Gaya hidup yang minim gerak dapat berdampak pada kesehatan tulang dan kekuatan otot.


6. Kebiasaan merokok

Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko kehilangan tulang.


7. Penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang

Penggunaan kortikosteroid dalam jangka panjang, misalnya, dapat meningkatkan risiko osteoporosis. Jangan menghentikan obat yang diresepkan tanpa berkonsultasi dengan dokter.

Memiliki satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti seseorang pasti mengalami osteoporosis. Namun, faktor-faktor tersebut dapat menjadi alasan untuk menilai risiko dan mempertimbangkan pemeriksaan lebih lanjut.


Bagaimana Cara Menjaga Tulang Tetap Kuat?


Kesehatan tulang perlu dijaga sejak usia muda dan dipertahankan sepanjang kehidupan. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan.

1. Penuhi Kebutuhan Kalsium

Kalsium dapat diperoleh dari berbagai bahan pangan, seperti susu dan produk olahannya, ikan tertentu yang dapat dimakan bersama tulangnya, tahu, tempe, serta sayuran hijau tertentu.

Pilih sumber kalsium yang sesuai dengan kebutuhan, kondisi kesehatan, dan pola makan Anda.


2. Pastikan Kebutuhan Vitamin D Terpenuhi

Vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium. Sumbernya antara lain paparan sinar matahari yang aman, ikan berlemak, telur, serta pangan yang diperkaya vitamin D.

Suplemen vitamin D atau kalsium tidak selalu diperlukan oleh setiap orang. Konsultasikan kebutuhan suplemen dengan tenaga kesehatan, terutama jika memiliki penyakit tertentu atau sedang mengonsumsi obat.


3. Lakukan Aktivitas Fisik Secara Teratur

Aktivitas seperti berjalan kaki, latihan kekuatan, dan latihan keseimbangan dapat membantu menjaga kesehatan tulang serta mengurangi risiko jatuh.

Jenis dan intensitas olahraga perlu disesuaikan dengan usia, kemampuan fisik, dan kondisi kesehatan. Bagi orang yang telah mengalami osteoporosis atau patah tulang, program latihan sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.


4. Hindari Rokok dan Jaga Pola Hidup Sehat

Berhenti merokok, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menjaga berat badan yang sehat merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan kesehatan tulang.


5. Cegah Risiko Jatuh

Bagi orang lanjut usia atau mereka yang memiliki risiko osteoporosis, pencegahan jatuh sangat penting.

Pastikan pencahayaan rumah cukup, singkirkan benda yang mudah membuat tersandung, gunakan alas kaki yang tidak licin, dan manfaatkan pegangan pada area yang berisiko, seperti kamar mandi.

Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengurangi risiko cedera dan patah tulang.


Kapan Perlu Memeriksakan Kepadatan Tulang?


Pemeriksaan kepadatan mineral tulang, yang dikenal sebagai bone mineral density (BMD), dapat membantu menilai kondisi tulang. Salah satu metode yang digunakan adalah DXA atau DEXA.

Pemeriksaan ini tidak harus dilakukan oleh semua orang dengan cara dan jadwal yang sama. Dokter akan mempertimbangkan usia, riwayat patah tulang, status menopause, penggunaan obat tertentu, penyakit penyerta, serta faktor risiko lainnya untuk menentukan apakah pemeriksaan diperlukan.

Jika Anda pernah mengalami patah tulang akibat benturan ringan, mengalami penurunan tinggi badan, atau memiliki faktor risiko osteoporosis, konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter.


Jangan menunggu sampai tulang patah untuk mulai memperhatikan kesehatan tulang.


Tulang Sehat, Aktivitas Tetap Terjaga


Osteoporosis sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, tetapi dampaknya dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak dan menjalani aktivitas sehari-hari.

Menjaga asupan gizi, aktif bergerak, menghindari rokok, mencegah jatuh, dan melakukan pemeriksaan sesuai kebutuhan merupakan langkah penting untuk menjaga kesehatan tulang.


RS Griya Husada Madiun mengajak Anda untuk lebih peduli terhadap kesehatan tulang sejak dini.

Karena tulang yang kuat membantu kita tetap aktif, mandiri, dan produktif sepanjang kehidupan.


Sudahkah Anda melakukan sesuatu untuk menjaga kesehatan tulang hari ini?


Sumber referensi: