RS GRIYA HUSADA MADIUN _ Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), prioritas utama bukan sekadar urutan kedatangan, tetapi tingkat kegawatan dan kebutuhan medis pasien.
Inilah yang disebut triase.
Apa Itu Triase?
Triase adalah proses penilaian awal untuk menentukan seberapa cepat seorang pasien membutuhkan pertolongan medis. Petugas akan menilai kondisi pasien berdasarkan tanda dan gejala, kondisi umum, serta berbagai indikator klinis lainnya.
Tujuannya sederhana:
Pasien yang paling membutuhkan pertolongan segera harus mendapatkan penanganan terlebih dahulu.
Dengan sistem ini, pasien dalam kondisi yang mengancam nyawa dapat segera mendapatkan tindakan tanpa harus menunggu pasien lain yang datang lebih dahulu tetapi kondisinya lebih stabil.
Mengapa Kondisi Gawat Darurat Tidak Bisa Menunggu?
Dalam beberapa kondisi, keterlambatan beberapa menit saja dapat memengaruhi keselamatan pasien.
Misalnya:
❤️ Serangan jantung
Gangguan aliran darah ke otot jantung membutuhkan penanganan segera untuk mengurangi risiko kerusakan jantung yang lebih luas.
🧠 Stroke
Pada stroke tertentu, semakin cepat pasien mendapatkan evaluasi dan penanganan yang tepat, semakin besar peluang untuk meminimalkan dampak kecacatan.
🫁 Gangguan pernapasan berat
Pasien dengan kesulitan bernapas atau kadar oksigen yang sangat rendah dapat membutuhkan tindakan segera untuk mempertahankan fungsi vital.
🩸 Perdarahan hebat
Kehilangan darah dalam jumlah banyak dapat menyebabkan kondisi yang mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan segera.
🚑 Cedera berat
Kecelakaan atau trauma berat dapat menyebabkan gangguan yang tidak selalu terlihat dari luar, tetapi dapat membahayakan fungsi organ vital.
Jadi, Bagaimana Alur Pasien di IGD?
Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan seperti ini:
Pasien datang → Penilaian awal/triase → Penentuan tingkat kegawatan → Pemeriksaan dan tindakan → Observasi atau perawatan lanjutan
Setelah dilakukan triase, pasien akan mendapatkan penanganan sesuai kondisi medisnya. Pasien dengan kondisi kritis dapat langsung diarahkan untuk mendapatkan tindakan emergensi. Sementara pasien dengan kondisi yang lebih stabil dapat menunggu sesuai prioritas medisnya.
“Tapi Saya Sudah Menunggu Lama…”
Menunggu di IGD bukan selalu berarti pasien diabaikan. Dalam satu waktu, tenaga kesehatan dapat menangani beberapa pasien dengan tingkat kegawatan yang berbeda. Jika muncul perubahan kondisi atau gejala semakin berat selama menunggu, segera sampaikan kepada petugas. Jangan menunggu diam-diam ketika kondisi memburuk.
Kapan Harus Segera ke IGD?
Beberapa kondisi yang patut mendapatkan pertolongan medis segera antara lain:
- Kesulitan bernapas berat;
- Nyeri dada yang berat atau mencurigakan sebagai masalah jantung;
- Penurunan kesadaran;
- Kejang;
- Tanda-tanda stroke seperti wajah mencong, kelemahan anggota tubuh, atau gangguan bicara mendadak;
- Perdarahan hebat;
- Cedera atau kecelakaan berat;
- Kondisi lain yang mengancam keselamatan atau fungsi organ vital.
Jika ragu apakah suatu kondisi merupakan kegawatdaruratan, lebih baik mendapatkan penilaian medis daripada mengabaikan gejala yang memburuk.
IGD Bukan Berdasarkan “Siapa Cepat, Dia Dapat”
Inilah hal penting yang perlu diketahui masyarakat.
IGD bukan tempat pelayanan berdasarkan nomor antrean biasa.
Sistem triase dibuat untuk memastikan sumber daya dan tenaga kesehatan diberikan terlebih dahulu kepada pasien yang paling membutuhkan. Jadi, ketika melihat pasien yang datang belakangan mendapatkan penanganan lebih dahulu, bukan berarti pasien sebelumnya tidak diperhatikan. Bisa jadi, kondisi pasien tersebut memang lebih gawat dan membutuhkan tindakan segera.
Mari Pahami Cara Kerja IGD
Memahami sistem triase membantu pasien dan keluarga melihat pelayanan IGD dari sudut pandang keselamatan pasien. Tujuan akhirnya bukan siapa yang mendapatkan pelayanan lebih dulu.
Tujuannya adalah:
Siapa yang paling membutuhkan pertolongan segera, harus ditangani segera.
Karena dalam kondisi gawat darurat, setiap menit dapat berarti. Kenali tanda kegawatdaruratan. Jangan menunda mencari pertolongan ketika kondisi memburuk.