RSGH Madiun_Musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta kualitas udara yang memburuk kembali menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Paparan asap bukan sekadar membuat mata perih atau tenggorokan tidak nyaman. Partikel halus dalam asap dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan bahkan memengaruhi sistem peredaran darah.
Kementerian Kesehatan RI pada 26 Agustus 2026 menyoroti dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit penyerta (komorbid). Paparan asap dapat membawa berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, serta senyawa organik beracun.
ISPA Mulai Menunjukkan Tren Peningkatan
Dampak kondisi udara terhadap kesehatan terlihat dari meningkatnya laporan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di sejumlah wilayah. Di Kalimantan Selatan, misalnya, Dinas Kesehatan mencatat 36.196 laporan ISPA pada minggu ke-28 hingga minggu ke-32 tahun 2026. Jumlah mingguan meningkat dari 5.319 kasus pada minggu ke-28 menjadi 8.458 kasus pada minggu ke-32. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa gangguan kualitas udara perlu direspons dengan serius, terutama ketika aktivitas masyarakat berlangsung di luar ruangan.
APA DAMPAK ASAP BAGI TUBUH ?
Paparan asap dapat menyebabkan berbagai keluhan, antara lain:
* Batuk dan tenggorokan terasa gatal
* Hidung berair atau tersumbat
* Mata merah dan perih
* Sesak atau napas terasa berat
* Sakit kepala
* Tubuh terasa lemas
* Memperburuk asma atau penyakit paru yang sudah ada
Pada kelompok rentan, paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.
Siapa yang Harus Lebih Berhati-hati?
1. Anak-anak
Sistem pernapasan dan perkembangan tubuh anak masih berlangsung sehingga mereka lebih rentan terhadap paparan polutan.
2. Lansia
Kelompok lanjut usia, khususnya yang memiliki penyakit jantung atau paru, perlu membatasi paparan udara yang tercemar.
3. Ibu hamil
Kehamilan merupakan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih terhadap kualitas udara dan paparan polusi.
4. Penderita penyakit kronis
Orang dengan asma, PPOK, penyakit jantung, atau penyakit kronis lainnya dapat mengalami perburukan gejala ketika kualitas udara menurun.
Kemenkes meminta fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah terdampak memberikan perlindungan ekstra kepada kelompok-kelompok tersebut.
APA YANG BISA KAMI LAKUKAN?
Saat kualitas udara memburuk, beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi paparan:
- Gunakan masker yang sesuai ketika harus beraktivitas di luar ruangan.
- Kurangi aktivitas luar ruangan apabila kondisi udara sedang buruk, terutama bagi kelompok rentan.
- Pantau kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.
- Tutup pintu dan jendela jika udara luar dipenuhi asap
- Jaga hidrasi dan kondisi tubuh dengan cukup minum serta menerapkan pola hidup sehat.
- Jangan abaikan gejala Jika muncul sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau keluhan yang semakin berat, segera mencari pertolongan medis.
JANGAN TUNGGU SAMPAI SESAK!
Paparan asap sering dianggap sebagai masalah sementara. Namun, ketika berlangsung terus-menerus, dampaknya dapat menjadi lebih serius. Karena itu, melindungi saluran pernapasan bukan hanya dilakukan ketika sudah sakit. Pencegahan harus dimulai sejak kualitas udara mulai memburuk.
Khususnya bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta, kewaspadaan perlu ditingkatkan.
Sehat Dimulai dari Udara yang Kita Hirup
Kondisi lingkungan memiliki hubungan erat dengan kesehatan. Di tengah musim kemarau dan potensi karhutla, menjaga kualitas udara dan mengurangi paparan asap merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan keluarga.
Kenali kondisi udara. Lindungi keluarga. Jangan abaikan gejala gangguan pernapasan.
*Artikel edukasi kesehatan. Informasi ini tidak menggantikan pemeriksaan dan diagnosis dokter.*